Kita tak menongkat langit selamanya

Standard

Kalau nak ikutkan masa, masa kecil aku adalah masa yang paling panjang aku lukakan hati mama aku. Bila dikenang kembali rasa macam something yang agak bangang aku pernah buat banyak benda dulu. Kisah-kisah yang aku taknak cerita kat sini. Haha. Kisah yang boleh buat mama mengalir air mata. Tapi itu dulu. Orang kata masa mematangkan diri, tapi betul ke masa tu buat kita matang tanpa faktor persekitaran? Aku lebih setuju kalau orang kata persekitaran mematangkan kita tanpa mengira apa jua usia kita. Usia baby tolak tepi.

Dari sekolah menengah sampai ke universiti sekarang ni aku rasa aku banyak berubah lepas sekolah menenangah bila persekitaran aku yang lebih terbuka, lebih buat aku trerfikir panjang tentang hidup ni. Ada satu saat yang bila aku fikir apa aku buat sebenarnya dalam dunia ni. Tapi tak bermakna sekarang aku dah cukup perfect, cuma aku mencuba untuk berubah ke arah positif diri.

Nak share sikit satu kisah yang aku tak sure sumbe asal dia, cuma aku dapat copy paste kembali dapat entri kali ni. Kisah yang buatkan aku macam terkena satu panahan. Tak pasti thundercat ke apa. Tapi buat aku berfikir panjang sampai ke harini.

PERTAMA
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

KEDUA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pe rtumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

KETIGA
Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah,demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat”

KEEMPAT
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

KELIMA
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali
menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

KEENAM
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit wang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima wang tersebut. Malahan mengirim balik wang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit”

KETUJUH
Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta.Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang”

KELAPAN
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Cuba dipikir-pikir teman,

* Sudah berapa lamakah kita tidak menelefon ayah dan ibu kita?
* Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah dan ibu kita?

Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah dan ibu kita yang kesepian.

Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya,

* kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
* risau apakah dia sudah makan atau belum,
* risau apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun,

* Apakah kita semua pernah merisaukan khabar dari orangtua kita?
* Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum?
* Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum?

“Mama bukan nak menongkat langit selamanya”

6 thoughts on “Kita tak menongkat langit selamanya

  1. Amoi

    I was speechless once, when i watched a video, at the end of the video there was a caption

    “dan apabila mata ibumu sudah tertutup,maka hilanglah satu keberkatan di sisi Allah, iaitu DOA SEORANG IBU”

    and the feeling is just the same when i read this post.
    how a mother’s prayer & hardship can effect our whole life isnt it.

    okay i should create a new entry by now =.=”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *